Minggu, 17 September 2017

Sejarah Kota Kudus



Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Beliau pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu disana sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus.

Peran Sunan Kudus




















Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa. Setelah pulang, Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 H atau 1548 M. Semula diberi nama Al Manar atau Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama kota Kudus sekarang. 

Sebelumnya mungkin bernama Loaram, dan nama ini masih dipakai sebagai nama Desa Loram sampai sekarang. Masjid buatan Sunan Kudus tersebut dikenal dengan nama masjid Menara di Kauman Kulon. Sejak Sunan Kudus bertempat tinggal di daerah itu, jumlah kaum muslimin makin bertambah sehingga daerah disekitar Masjid diberi nama Kauman, yang berarti tempat tinggal kaum muslimin.

Cerita Rakyat
Ada cerita rakyat di Kudus tentang 'apa sebab masyarakat Kudus sampai sekarang tidak menyembelih sapi'?. Sebelum kedatangan Islam, daerah Kudus dan sekitarnya merupakan Pusat Agama Hindu. Dahulu Sunan Kudus ketika dahaga pernah ditolong oleh seorang pendeta Hindu dengan diberi air susu sapi. Maka sebagai rasa terima kasih, Sunan Kudus waktu itu melarang menyembelih binatang sapi dimana dalam agama Hindu, sapi merupakan hewan yang dimuliakan.

Hari Jadi Kota Kudus

Hari Jadi Kota Kudus di tetapkan pada tanggal 23 September 1549 M dan diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 tahun 1990 tentang Hari Jadi Kudus yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era Bupati Kolonel Soedarsono. Hari jadi Kota Kudus dirayakan dengan parade, upacara, tasyakuran dan beberapa kegiatan di Al Aqsa / Masjid Menara yang dilanjutkan dengan ritual keagamaan seperti doa bersama dan tahlil.

Asal nama
Nama "Kudus" berasal dari bahasa Arab yang berarti Suci. Kudus bukan satu-satunya kabupaten yang menyandang nama Arab di Tanah Jawa karena Kabupaten Demak dan Kabupaten Kendal juga berasal dari Bahasa Arab.

Sejarah
Kudus awalnya desa kecil di tepi Sungai Gelis, bernama Desa Tajug. Warga hidup dari bertani, membuat batu bata, dan menangkap ikan. Setelah kedatangan Sunan Kudus, desa kecil itu dikenal sebagai Al-Quds yang berarti Kudus. Sunan Kudus yang gemar berdagang menumbuhkan Kudus menjadi kota pelabuhan sungai dan perdagangan di jalur perdagangan Sungai Gelis -> Sungai Wulan -> Pelabuhan Jepara.
Pedagang dari Timur Tengah, Tiongkok, dan pedagang antar pulau dari sejumlah daerah di Nusantara berdagang kain, barang pecah belah, dan hasil pertanian di Tajug. Warga Tajug juga terinspirasi filosofi yang dihidupi Sunan Kudus, Gusjigang. Gus berarti bagus, ji berarti mengaji, dan gang berarti berdagang. Melalui filosofi itu, Sunan Kudus menuntun masyarakat menjadi orang berkepribadian bagus, tekun mengaji, dan mau berdagang. Dari pembauran lewat sarana perdagangan dan semangat ”gusjigang” itulah masyarakat Kudus mengenal dan mampu membaca peluang usaha. Dua di antaranya usaha batik dan jenang.
Berdirinya Masjid Menara Kudus sebagai Hari Jadi Kabupaten Kudus. Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini. Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab.

Riwayat Pasar Kliwon Kudus Yang Melegenda


Pasar kliwon, sebuah nama yang sangat melekat tidak hanya di ingatan, tapi juga di hati banyak orang. Bukan saja dikenal oleh penduduk lokal, tapi juga dikenang oleh siapapun yang pernah menapakkan kakinya di sana.

Sejarah tempat ini telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Pasar kliwon merupakan simpul dari pusat pemerintahan dan ekonomi Kota Kudus yang kemudian berkembang seiring berjalannya waktu. Jutaan detik berlalu, detak jantung Pasar kliwon tetap kencang. Ia menjadi landmark terbesar di kota kudus bahkan sejawa tengah sekaligus episentrum pedagang pakaian dan kuliner. Walau telah banyak berubah, ia tak pernah hampa cerita. Pasar kliwon senantiasa menuturkan kisah-kisah kehidupan yang pantas untuk direnungkan.

Ruang publik Pasar kliwon lebih dari sekadar tempat berdagang. Namun, juga tempat interaksi dan berekspresi. Di tengah keterdesakan ruang yang tak lagi luang, Pasar kliwon masih menjadi panggung bagi individu-individu pemilik hasrat dagang yang meluap-luap. Di Pasar kliwon mereka mencuri perhatian dengan cara yang mengagumkan, senyum yang ramah sembari menawarkan barang dagangannya. Para pedagang ini menawarkan dengan penuh keyakinan di tengah keramaian manusia yang hilir mudik kesana kemari. Keberadaan para pedagang membuat Pasar kliwon tetap istimewa meski kenyamanannya telah berkurang di makan zaman.

Pasar kliwon adalah tempat para pencari rezeki. Bukan hanya bagi para pedagang, pengayuh becak, kusir andong serta ratusan pedagang kaki lima yang berderet menyesaki jalanannya. Namun, juga bagi puluhan orang yang setiap hari menggantungkan hidupnya dengan meminta (pengemis). Mereka hilir mudik menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, menghampiri satu demi satu pengunjung dan juga pedagang.
Pasar Kliwon telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Bangunannya dulu masih sederhana, dinding dan pagarnya berupa papan kayu yang disusun rapi. Hanya saja, pasar Kliwon yang dulu lebih luas daripada yang sekarang. Dulu, di depan toko Makmur Jaya ada terminal delman dan krangkeng (dokar yang tinggi), atau dalam istilah Jawa terminal itu disebut koplakan. Namun Karena tempat itu digunakan untuk menjual burung dan ayam, koplakan dipindah di sebelah tenggara pasar. Pasar yang menjual berbagai macam kebutuhan ini masuk dalam wilayah desa Rendeng, Mlati Lor, dan Nganguk.
Pasar Kliwon paling ramai pengunjung setiap pasaran jatuh pada pasaran Kliwon. Terutama pada hari Minggu Kliwon, para pengunjung memadati pasar di setiap sudutnya. Itulah mengapa pasar ini dinamakan pasar Kliwon. Seiring berjalannya waktu karena roda perekonomian cepat berputar pengunjung sekarang ramai setiap saat.
Pada tahun 1981, dua hari setelah hari raya Idul Fitri pasar ini terbakar. Kemudian sembari menunggu pembangunan kembali, para pedagang dipindahkan ke lapangan Rendeng. Sekitar tahun 1998 pasar ini baru dibangun kembali. Dengan perencanaan menjadi pasar induk di kota Kudus, pasar Kliwon dibangun permanen hingga tiga lantai. Namun ketika itu, baru separuh bagian dari pasar yang ditinggikan hingga tiga lantai.
Lima tahun yang lalu, tahun 2011 pasar ini terbakar kembali. Namun hanya bagian timur sampai pintu utama saja yang terbakar. Ada satu hal yang menarik di sini, pohon beringin yang berada di dekat pintu utama tidak tersentuh api sedikitpun ketika kebakaran terjadi. Pasar dibangun kembali pada sekitar tahun 2013, sekaligus menyempurnakan seluruh bangunan menjadi tiga lantai hingga sekarang.